
Orang-Orang yang berada di sekitar kita akan menentukan kualitas diri kita. Jika kita terjebak dalam “habitat” yang buruk, kelakuan kita sudah barang tentu tak akan jauh dari tempat kaki kita berpijak.
Contohnya ialah Abu Thalib. Ia adalah salah satu yang senantiasa semasa hidupnya melindungi Rasulullah ﷺ, paman yang sangat Rasulullah ﷺ harapkan mengucap syahadat. Namun, syahadat itu tak terucap melalui lisannya sehingga di penghujung kehidupannya. Saat itu ketika nyawanya sudah berada di penghujung, Rasulullah ﷺ meminta pamannya untuk mengucap kalimat syahadat agar dapat membelanya di hadapan Allah.
Namun, di sisi lainnya, Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah terus menerus berbicara kepadanya agar tak meninggalkan agama nenek moyang yang selama ini telah ia temani. Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah berkata,
“Hai Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?”
Rasulullah ﷺ terus mengajak pamannya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Namun, Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah selalu menimpali dan mengulangi perkataan mereka. Hingga pada akhirnya, Abu Thalib memilih ucapan terakhir, dia mengikuti agama nenek moyangnya, menuruti perkataan sahabatnya Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah.
Begitu besar pengaruh pertemanan dalam kehidupan kita. Lingkungan yang baik akan turut menuntun diri kita menjadi baik. Sebaliknya, lingkungan yang tidak baik bisa pula menarik diri kita menjadi tidak baik. Oleh karena itu, memilih lingkaran pertemanan adalah hal yang penting. Rasulullah sampai menyampaikan bahwa agama seseorang itu tergantung dari agama temannya.
“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika (Al-Qur’an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia.”( QS. Al-Furqan:28-29)
Maka dari itu, Carilah teman yang baik sebab teman memiliki pengaruh besar dalam kehidupan kita.
Bertemanlah dengan mereka yang cerdas dalam hidup, yang turut mendorongmu mempelajari hal-hal baru dan mendorongmu untuk semakin berkembang.
Bertemanlah dengan orang yang shaleh yang senantiasa jujur dalam ucapan, menepati janji, menjaga mulutnya dari perkataan sia-sia, senantiasa mengajakmu untuk berbuat ketaatan, dan dekat dengannya membuatmu semakin dekat dengan Allah. Jangan berteman dengan orang fasik, yang senantiasa melakukan kemaksiatan. Berteman dengan orang fasik bisa mematikan hatimu dan menggagalkan hijrahmu sebab semakin dekat dengan mereka maka semakin membuatmu jauh dari Allah.
Namun begitu, kita tak bisa hanya menuntut orang menjadi teman baik, kita juga sudah tentu harus menjadi teman yang baik bagi orang lain.
Jadilah teman yang siap membantu, baik dengan harta maupun tenaga apabila teman kita sedang berada dalam kesulitan. Jaga mulut kita untuk tidak menceritakan aib-aibnya. Tidak berkata yang akan menyakiti hatinya dan senantiasa berterima kasih atas kebaikan yang ia lakukan.
Tinggalkan komentar